PARIGI MOUTONG, Timursulawesi.id — Gagasan mendirikan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) di Kabupaten Parigi Moutong kembali mengemuka. Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Tengah menilai penguatan kader dan rekayasa sosial menjadi bagian penting untuk menyiapkan fondasi pendidikan sekaligus membangun peradaban Muhammadiyah di daerah tersebut.
Wakil Ketua PWM Sulteng, Ikbal Bungaadjim, S.Pd., M.Si., menyampaikan hal itu saat membuka kegiatan Darul Arqam Dasar (DAD) dan Baitul Arqam (BA) di kompleks perguruan Muhammadiyah, Desa Pelawa Baru, Kecamatan Parigi Tengah, pada Kamis (17/9/2026).
Kegiatan perkaderan yang mengusung tema “Satukan Negeri Dalam Islam yang Berkelanjutan” tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk memperkuat kapasitas kader sekaligus memahami arah gerakan Muhammadiyah ke depan.
Ikbal menegaskan, perkaderan tidak boleh dipandang sekadar sebagai kegiatan rutin organisasi. Menurutnya, proses tersebut merupakan bagian dari strategi menyiapkan generasi yang akan meneruskan sekaligus mengembangkan gerakan Muhammadiyah di masa mendatang.
“Hidup ini memang perlu direkayasa, engineering dan empowering. Tidak bisa kita biarkan berjalan begitu saja. Apa yang kita lakukan hari ini melalui perkaderan adalah bagian dari menyiapkan masa depan peradaban Muhammadiyah di Parigi Moutong,” ujar Ikbal.
Ia juga menyoroti kondisi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Parigi Moutong yang dinilainya masih membutuhkan perhatian. Pengalaman puluhan tahun berkiprah di daerah tersebut, termasuk di lembaga penyelenggara dan pengawas pemilu, menjadi salah satu pijakannya dalam melihat persoalan pembangunan sumber daya manusia.
Menurut Ikbal, peningkatan kualitas pendidikan dan tumbuhnya kesadaran kritis masyarakat merupakan bagian yang perlu terus diperkuat. Dalam konteks itu, kehadiran perguruan tinggi Muhammadiyah dinilai dapat menjadi salah satu instrumen untuk mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia di Parigi Moutong.
“Kami yakin betul, dengan pengorbanan dan kerja keras, Universitas Muhammadiyah Parigi Moutong akan berdiri dan dinikmati oleh masyarakat luas. Kalian yang ada di sini adalah calon-calon penggerak dan dosennya kelak,” tegasnya.
Ikbal juga menekankan pentingnya pembinaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) dalam proses pembentukan kader. Pemahaman terhadap nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan, kata dia, tidak hanya menjadi bekal dalam kehidupan beragama, tetapi juga dapat menjadi pijakan dalam merespons berbagai persoalan sosial.
Karena itu, seluruh peserta DAD dan BA diminta menjalani proses perkaderan secara serius. Ikbal berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada pemahaman materi, tetapi mampu membentuk kader yang memiliki kapasitas untuk mengambil peran dalam perubahan sosial.
“Kami tidak sedang mengajarkan sesuatu yang keliru, kami sedang berikhtiar mengubah masa depan. Ikuti kegiatan ini dengan sungguh-sungguh,” pungkasnya.















