Example floating
Example floating
Example 970x250
Daerah

BPBD Parigi Moutong Siaga Hadapi Ancaman El Nino 2026

×

BPBD Parigi Moutong Siaga Hadapi Ancaman El Nino 2026

Sebarkan artikel ini
Ket. Foto : Mengantisipasi potensi dampak perubahan iklim, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parigi Moutong mulai memperkuat kesiapsiagaan lintas sektor melalui rapat koordinasi menghadapi El Nino 2026. (Dok. Itha)
Example 728x90

PARIGI MOUTONG, Timursulawesi.id — Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong melalui BPBD mengintensifkan langkah antisipasi menghadapi kemungkinan terjadinya fenomena El Nino pada 2026. Hal ini ditandai dengan pelaksanaan Rapat Koordinasi (Rakor) yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan di ruang Crisis Center BPBD, Selasa (31/3/2026).

Plt. Kepala Pelaksana BPBD Parigi Moutong, Rivai S.T, menegaskan bahwa dinamika iklim global tahun ini perlu dicermati sejak dini, terutama dalam memahami pola musim yang berdampak langsung pada aktivitas masyarakat.

Menurutnya, periode Maret hingga Mei masih berada dalam fase musim hujan, sehingga masyarakat diimbau tetap menyesuaikan aktivitas dengan kondisi cuaca yang cenderung basah.

Berita lainnya :  Lahan BUMDes Baliara Terbakar, Diduga Akibat Pembakaran Lahan Warga

“Memasuki Juni hingga Juli, kita akan mulai beralih ke musim kemarau. Ini fase penting yang harus diantisipasi, terutama oleh sektor-sektor yang bergantung pada ketersediaan air,” ujarnya.

Rivai menjelaskan, puncak musim kemarau secara umum diperkirakan terjadi pada Agustus. Namun, sejumlah wilayah di bagian utara seperti Bolano, Lambunu, Taopa hingga Moutong berpotensi mengalami puncak kemarau lebih lambat, yakni pada September, dengan durasi yang lebih panjang.

“Karakteristik wilayah utara berbeda, sehingga musim kemarau bisa berlangsung lebih lama dibandingkan daerah lain di Parigi Moutong,” jelasnya.

Berita lainnya :  Wapres Gibran Tinjau Korban Gempa Poso, Pemerintah Siap Pulihkan

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa kondisi ENSO diperkirakan masih berada pada fase netral hingga pertengahan 2026, sebelum berpotensi berubah menjadi El Nino lemah pada semester kedua.

“Kondisi ini dapat memicu penurunan curah hujan secara bertahap, sehingga perlu diantisipasi sejak sekarang,” katanya.

Sementara itu, fenomena IOD diprediksi tetap dalam kondisi netral hingga pertengahan tahun, sehingga belum memberikan dampak signifikan terhadap pola curah hujan dalam waktu dekat.

Dalam rakor tersebut, BPBD mendorong langkah mitigasi konkret di berbagai sektor strategis, mulai dari pertanian, kehutanan, energi, hingga kesehatan masyarakat. Upaya seperti penyesuaian kalender tanam, efisiensi penggunaan air, serta peningkatan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan menjadi fokus utama.

Berita lainnya :  Kemensos Salurkan Bantuan Atensi Perkuat Perlindungan Sosial Parigi Moutong

Selain itu, perlindungan kelompok rentan juga menjadi perhatian serius, terutama melalui penyediaan air bersih, pemantauan kualitas udara, dan kesiapan layanan kesehatan.

Rivai menegaskan bahwa keberhasilan menghadapi El Nino tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada sinergi lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat.

“Kolaborasi semua pihak sangat penting agar dampak El Nino 2026 dapat diminimalkan dan tidak menimbulkan risiko besar bagi masyarakat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *