Example floating
Example floating
Example 970x250
DaerahLingkungan

Karhutla Parigi Moutong Masuki Fase Kritis, Ancam Lahan Warga

×

Karhutla Parigi Moutong Masuki Fase Kritis, Ancam Lahan Warga

Sebarkan artikel ini
Ket. Foto : Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kecamatan Parigi Utara dan Kecamatan Siniu, Kabupaten Parigi Moutong (Parmout), Sulawesi Tengah, kian mengkhawatirkan. (Dok. Ipal)
Example 728x90

Parigi Moutong, Timursulawesi.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kecamatan Parigi Utara dan Kecamatan Siniu, Kabupaten Parigi Moutong (Parmout), Sulawesi Tengah, kian mengkhawatirkan. Hingga Kamis (5/2/2026), api belum berhasil dipadamkan dan terus mengancam lahan produktif milik warga.

Pemerintah daerah bersama petugas gabungan masih berjibaku melakukan penanganan darurat untuk mencegah api meluas. Namun, medan yang terjal serta tiupan angin kencang menjadi kendala utama proses pemadaman di lapangan.

Bupati Parigi Moutong, H. Erwin Burase, menyebutkan bahwa upaya pemadaman saat ini masih dilakukan secara manual dengan penjagaan ketat di sejumlah titik rawan. Hal ini disebabkan kendaraan pemadam kebakaran tidak mampu menjangkau lokasi titik api.

“Kami sudah turun langsung melihat kondisi di lapangan. Kendaraan tidak bisa naik karena medannya sangat terjal. Ditambah angin kencang, api bisa sewaktu-waktu membesar dan membahayakan masyarakat,” kata Erwin usai meninjau lokasi kebakaran di Desa Euvolo, Kecamatan Siniu.

Menurutnya, situasi tersebut cukup berisiko, terutama bagi warga yang nekat mendekati area kebakaran demi menyelamatkan tanaman produktif mereka.

Sebagai langkah antisipasi, Pemkab Parmout berencana menyiapkan alat pompa air (alkon) yang akan dipasang di titik-titik sumber air terdekat. Air tersebut akan ditampung dan dialirkan langsung ke titik api menggunakan selang.

Berita lainnya :  MTQ Kecamatan Siniu Tanamkan Nilai Qur’ani di Masyarakat

“Selama ini masyarakat memadamkan api dengan jerigen dan harus bolak-balik mengambil air. Dengan alkon, air bisa langsung disalurkan ke lokasi kebakaran,” jelasnya.

Selain itu, petugas gabungan juga mendapat dukungan dari Dinas Pertanian Kabupaten Parigi Moutong berupa 30 unit tangki semprot. Bantuan ini akan diserahkan kepada pemerintah desa dan masyarakat untuk digunakan bersama dalam upaya pemadaman sekaligus mencegah api kembali meluas.

“Harapan saya, api tidak melebar. Ini langkah antisipasi awal yang kita lakukan,” tegas Erwin.

Terkait bantuan pemadaman dari udara, Erwin mengungkapkan bahwa pengajuan melalui BPBD Parmout kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah disetujui dan kini masih dalam proses. Untuk mempercepat realisasi, dukungan dari DPR RI juga telah diupayakan.

“Kami sudah menghubungi Pak Yanus Matindas di Komisi VIII DPR RI dan alhamdulillah beliau bersedia membantu. Bantuan yang diminta berupa peralatan pemadaman manual seperti tangki semprot dan alat pelindung diri tahan panas. Kami upayakan satu hingga dua hari ini bantuan sudah tiba,” ujarnya.

Pemkab Parmout juga tengah mempertimbangkan opsi penggunaan helikopter pemadam kebakaran yang terus dikoordinasikan dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Namun, helikopter yang digunakan harus dilengkapi peralatan khusus penampungan dan penjatuhan air.

Berita lainnya :  Seratus Calon Jamaah Ikuti Manasik Haji Tingkat Kabupaten Parigi Moutong

“Helikopter pemadaman itu sifatnya khusus. Ini terus kami koordinasikan dan dalam waktu dekat saya akan kembali melapor ke Gubernur,” kata Erwin.

Di sisi lain, pemerintah daerah telah menginstruksikan camat dan kepala desa untuk segera mendata lahan warga yang terdampak kebakaran, mencakup luas lahan, kepemilikan, serta jenis tanaman.

“Insyaallah pemerintah daerah akan membantu masyarakat. Kasihan, ada warga yang sampai 10 hektare lahannya terdampak, padahal tanamannya sudah siap panen. Kerugian ini tentu harus kita hitung,” imbuhnya.

Berdasarkan laporan Pusdalops BPBD Parmout, luas lahan terbakar awalnya diperkirakan sekitar 45 hektare. Namun, pantauan satelit terbaru Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menunjukkan kebakaran telah meluas hingga sekitar 90 hektare. Data tersebut masih dalam tahap verifikasi lapangan.

Sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) telah disiagakan, di antaranya BPBD, Satpol PP dan Damkar, serta Dinas Pertanian. Tiga unit mobil tangki BPBD dan dua unit mobil pemadam kebakaran juga terus bersiaga di lokasi.

Berita lainnya :  KONI Parigi Moutong Lepas Kontingen Catur Menuju Kejurnas Sulbar 2025

Untuk pendanaan penanganan karhutla, Erwin menegaskan bahwa Pemkab Parmout dapat memanfaatkan Belanja Tidak Terduga (BTT) guna mengantisipasi kondisi darurat. Sementara nilai kerugian masyarakat masih dalam proses pendataan.

Sementara itu, Kapolres Parigi Moutong AKBP Dr. Hendrawan mengungkapkan bahwa pihak kepolisian telah mengambil langkah hukum terkait dugaan penyebab kebakaran. Sebanyak 12 orang terduga pelaku pembakaran telah dipanggil untuk menjalani pemeriksaan awal.

“Kami akan memastikan awal mula kebakaran, termasuk siapa yang membakar dan tidak memadamkannya. Saat ini sebagian masih membantu pemadaman di lapangan,” ungkap Hendrawan.

Dalam penanganan tersebut, Polres Parmout mengerahkan 30 personel untuk membantu pemadaman dan pengamanan lokasi.

Dari unsur TNI, Danramil 1306-Parigi sekaligus Pabung Parmout, Kapten Armet Putu Sanjaya, menyampaikan bahwa Korem 132 Tadulako siap mengerahkan 30 hingga 60 personel Batalyon Tempur (YONTP) sesuai kebutuhan.

“Personel akan kami kerahkan setelah perlengkapan dari pemerintah daerah siap. Selama empat hari terakhir, TNI bersama unsur terkait siaga siang dan malam memadamkan api,” ujarnya.

Ia menegaskan, TNI siap menambah kekuatan apabila titik api kembali meluas, mengingat enam koramil di wilayah Parigi Moutong siap dikerahkan kapan saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *