Example floating
Example floating
Example 970x250
DaerahLingkungan

Parigi Moutong Hadapi Ancaman Ganda Kekeringan dan Banjir Ekstrem

×

Parigi Moutong Hadapi Ancaman Ganda Kekeringan dan Banjir Ekstrem

Sebarkan artikel ini
Ket. Foto : Kabupaten Parigi Moutong kini menghadapi kondisi cuaca yang tidak biasa. Di tengah wilayahnya yang membentang sepanjang 510 kilometer, ancaman bencana datang dari dua arah berbeda, yakni kekeringan ekstrem yang melanda kawasan utara serta banjir bandang yang menerjang wilayah selatan hingga bagian tengah. (Dok. Diskominfo Parigi Moutong)
Example 728x90

PARIGI MOUTONG, Timursulawesi.id – Kabupaten Parigi Moutong kini menghadapi kondisi cuaca yang tidak biasa. Di tengah wilayahnya yang membentang sepanjang 510 kilometer, ancaman bencana datang dari dua arah berbeda, yakni kekeringan ekstrem yang melanda kawasan utara serta banjir bandang yang menerjang wilayah selatan hingga bagian tengah.

Situasi kontras tersebut diungkapkan Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase, saat mengikuti Rapat Koordinasi Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta Kekeringan yang dipimpin Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. Anwar Hafid, M.Si., di Ruang Rapat Polibu Kantor Gubernur Sulawesi Tengah, Senin (31/8/2026).

Erwin menjelaskan, wilayah utara Parigi Moutong saat ini berada dalam ancaman serius akibat musim panas berkepanjangan yang memicu potensi Karhutla dan kekeringan.

Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong bahkan telah menetapkan status Siaga Karhutla pada lima kecamatan, mulai dari wilayah Mepanga hingga Moutong.

Kondisi tersebut tidak hanya mengancam kawasan hutan dan permukiman warga, tetapi juga berdampak langsung terhadap sektor pertanian. Menurunnya debit air sungai menyebabkan ancaman gagal panen, khususnya di Kecamatan Mepanga yang membuat sekitar 3.200 hektare tanaman padi masyarakat mulai mengalami kekeringan akibat minimnya pasokan air.

Berita lainnya :  Api Cepat Membesar, Karhutla Kembali Melanda Parigi Moutong

“Warga sudah mulai resah dan menyampaikan laporan langsung ke kantor bupati. Solusi yang harus segera disiapkan adalah pembangunan sumur bor untuk membantu pengairan sawah apabila kondisi ini berlangsung dalam waktu lama,” ujar Erwin Burase.

Sementara itu, kondisi berbeda terjadi di wilayah Parigi hingga Kasimbar. Kawasan tersebut justru terus diguyur hujan dengan intensitas tinggi yang memicu banjir bandang di sejumlah wilayah.

Di Kecamatan Kasimbar, banjir bandang terjadi sebanyak dua kali, yakni pada 16 dan 26 Agustus 2026. Bencana tersebut menyebabkan material longsor menutup total ruas Jalan Trans Sulawesi di Desa Paningka hingga menghambat arus transportasi. Penanganan dilakukan melalui pembangunan jembatan darurat atau Bailey agar akses kembali terbuka.

Banjir juga melanda Desa Avolua yang menyebabkan 73 kepala keluarga harus mengungsi karena rumah mereka terdampak terjangan air. Puluhan rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan berat akibat bencana tersebut.

Berita lainnya :  TIMPORA Parimo Perkuat Pengawasan Orang Asing Jaga Kondusivitas Daerah

Selain itu, Desa Toboli Barat mengalami krisis air bersih setelah tanggul penampung dan jaringan pipa Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) rusak diterjang banjir bandang. Kondisi itu berdampak terhadap sekitar 350 kepala keluarga yang membutuhkan pasokan air bersih.

Dalam rapat koordinasi tersebut, Bupati Erwin Burase turut menyampaikan strategi penanganan Karhutla, khususnya untuk wilayah perbukitan dan kawasan hutan yang sulit dijangkau kendaraan pemadam kebakaran.

Menurutnya, pengalaman penanganan di lapangan bersama 100 personel TNI, kepolisian, serta sekitar 1.000 masyarakat menunjukkan bahwa penggunaan peralatan manual seperti tangki semprot, alkon, dan kolam penampungan air berbahan plastik efektif dalam mengendalikan penyebaran api.

“Mobil pemadam tetap kita siapkan untuk melindungi permukiman warga. Namun ketika api sudah masuk kawasan gunung dan hutan, pergerakan pasukan secara manual dengan tangki semprot dan kantong penampungan air menjadi langkah tercepat sebelum dukungan helikopter tersedia,” jelasnya.

Selain memperkuat kesiapsiagaan teknis, Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong juga terus meningkatkan upaya pencegahan dengan melibatkan masyarakat hingga tingkat desa, lingkungan pesta pernikahan, dan rumah ibadah.

Berita lainnya :  Penuh Haru, Pemda Parigi Moutong Sambut Kepulangan Jamaah Haji 2025

Warga terus diingatkan agar tidak melakukan pembakaran sampah atau ranting sembarangan serta tidak membuang puntung rokok yang berpotensi memicu kebakaran lahan.

Berdasarkan data hingga 28 Agustus 2026, tercatat sebanyak 87 kejadian Karhutla dan 15 kejadian kekeringan terjadi di wilayah Sulawesi Tengah. Menghadapi kondisi tersebut, Gubernur Sulawesi Tengah Dr. Anwar Hafid menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor untuk menekan dampak bencana.

“Kasus kebakaran hutan dan lahan terjadi bukan hanya karena faktor kelalaian, tetapi juga dipengaruhi kondisi cuaca yang sangat panas. Melalui koordinasi ini, kita berharap dampak kerugian dapat dicegah dan dikendalikan,” tegas Anwar Hafid.

Dukungan penanganan juga disampaikan Pangdam XXIII/Palaka Wira Mayjen TNI Jonathan Binsar P Sianipar. Ia memastikan jajaran TNI telah mengerahkan personel dan sarana pendukung di sejumlah titik rawan guna memperkuat kesiapsiagaan serta mempercepat respons darurat di lapangan.

Total Views: 697

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *