Parigi Moutong, Timursulawesi.id – Derasnya pengaruh budaya luar dan perkembangan teknologi digital mulai mengancam keberlangsungan budaya lokal di Kabupaten Parigi Moutong. Kondisi ini menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), terutama karena semakin banyak generasi muda yang dinilai mulai jauh dari bahasa daerah, seni tradisional, dan nilai-nilai kearifan lokal.
Kekhawatiran tersebut disampaikan Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Parigi Moutong, Ninong Pandake, saat menjadi pemateri pada kegiatan Konsolidasi Daerah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Parigi Moutong di Aula Disdikbud, Senin (11/05/2026).
Menurut Ninong, perkembangan media digital membuat anak-anak lebih cepat menyerap budaya luar dibanding mengenal budaya daerah yang tumbuh di lingkungan mereka sendiri.
“Pelestarian budaya saat ini menjadi tantangan besar. Anak-anak sekarang lebih cepat menyerap budaya luar melalui media digital dibanding mengenal budaya daerahnya sendiri,” ujarnya.
Ia menilai, jika kondisi tersebut tidak segera diantisipasi, warisan budaya daerah berpotensi hilang secara perlahan karena tidak lagi dikenal generasi penerus.
Karena itu, dunia pendidikan dinilai menjadi sektor paling strategis dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal melalui penguatan pembelajaran bahasa daerah, seni tradisional, hingga nilai-nilai budaya di sekolah.
“Dan kebudayaan yaitu mengenalkan nilai tradisi, bahasa, seni serta kearifan lokal kepada generasi selanjutnya, tentunya anak-anak di satuan pendidikan,” jelasnya.
Ninong mengungkapkan, salah satu persoalan utama saat ini adalah semakin berkurangnya penggunaan bahasa daerah di lingkungan keluarga maupun sekolah. Bahkan, beberapa bahasa lokal di Parigi Moutong mulai terancam kehilangan penutur aktif.
Ia mencontohkan bahasa Tialo yang hingga kini belum masuk dalam peta bahasa nasional dan masih dianggap bagian dari rumpun bahasa Dondo di Kabupaten Tolitoli.
“Bahasa Tialo ini belum diakui sebagai bahasa tersendiri dalam peta bahasa nasional, padahal masyarakat penuturnya ada dari Tomini sampai Moutong,” katanya.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Disdikbud Parigi Moutong bekerja sama dengan Balai Bahasa melaksanakan program revitalisasi bahasa daerah melalui penelitian, pendataan, dan penguatan penggunaan bahasa lokal di sekolah maupun masyarakat.
Selain persoalan bahasa, keterbatasan tenaga pengajar muatan lokal juga menjadi tantangan dalam pengembangan pendidikan budaya di sekolah-sekolah. Menurut Ninong, masih banyak sekolah yang belum memiliki guru khusus untuk mengajarkan budaya dan bahasa daerah secara maksimal.
Karena itu, pada tahun 2026 Disdikbud Parigi Moutong akan melaksanakan pelatihan tenaga pengajar muatan lokal bagi guru SD dan SMP.
“Kami akan melatih guru-guru terlebih dahulu agar nantinya mereka mampu mengajarkan budaya lokal kepada peserta didik,” terangnya.
Ia menjelaskan, pengembangan materi budaya lokal akan difokuskan pada empat suku besar di Parigi Moutong, yakni Kaili, Lauje, Tajio, dan Tialo. Penyusunan bahan ajar akan melibatkan akademisi, tokoh budaya, dan penutur asli agar materi sesuai dengan identitas budaya masyarakat setempat.
Di sisi lain, keterbatasan anggaran juga menjadi kendala dalam pelaksanaan berbagai program kebudayaan. Salah satunya pada Program Gerakan Seniman Masuk Sekolah yang menghadirkan seniman lokal untuk mengajarkan musik tradisional, tari, sastra, film, hingga fotografi kepada siswa.
“Karena efisiensi anggaran, kami hanya mampu menganggarkan honor seniman. Untuk bahan ajar dan kebutuhan pendukung lainnya kami berharap dukungan dari pihak sekolah,” ungkapnya.
Selain pembelajaran langsung, Disdikbud Parigi Moutong juga mulai memanfaatkan media digital untuk memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda. Beberapa waktu lalu, pihaknya menggelar pemutaran tiga film karya anak daerah yang mengangkat budaya lokal Parigi Moutong dan dihadiri ratusan pelajar SD dan SMP di Kota Parigi.
Menurut Ninong, pendekatan melalui film dinilai lebih efektif karena anak-anak lebih mudah memahami budaya melalui visual.
“Kalau hanya diajar biasa mungkin anak-anak kurang respon, tetapi melalui film mereka lebih cepat memahami budaya daerah,” tuturnya.
Upaya pelestarian budaya juga dilakukan melalui Festival Gampiri atau Gelar Budaya Masyarakat Parigi Moutong yang melibatkan pelajar dari berbagai kecamatan. Festival tersebut menampilkan permainan tradisional, olahraga rakyat, hingga pertunjukan seni budaya daerah sebagai upaya menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas lokal.
Selain itu, Balai Bahasa juga akan melakukan pengawasan penggunaan bahasa Indonesia di sekolah dan instansi pemerintah. Menurut Ninong, masih banyak penggunaan istilah asing di lingkungan pendidikan yang seharusnya dapat diganti dengan bahasa Indonesia.
“Bahasa Indonesia harus diutamakan, kemudian bahasa daerah, baru bahasa asing,” tegasnya.
Ia berharap seluruh pihak, khususnya dunia pendidikan, dapat bersinergi menjaga budaya lokal agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
“Pelestarian budaya lokal tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan dukungan semua pihak agar generasi muda menjadi penerus yang bangga dan mampu menjaga warisan budaya daerah untuk masa depan,” pungkasnya.















