Example floating
Example floating
Example 970x250
DaerahPendidikan

Festival GAMPIRI Parigi Moutong Siap Jadi Pesta Multikultur

×

Festival GAMPIRI Parigi Moutong Siap Jadi Pesta Multikultur

Sebarkan artikel ini
Ket. Foto : Pamong Budaya Disdikbud, Parigi Moutong, Muhammad Taufan. (Dok. Ipal)
Example 728x90

Parigi Moutong, Timursulawesi.id – Upaya menghadirkan ruang ekspresi budaya yang lebih luas dan inklusif tengah dimatangkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Parigi Moutong melalui Festival GAMPIRI 2026. Festival yang merupakan singkatan dari Gelar Budaya Masyarakat Parigi Moutong ini diproyeksikan menjadi ajang multikultur yang meriah dengan melibatkan berbagai komunitas seni dan budaya.

Pamong Budaya Disdikbud, Muhammad Taufan, mengungkapkan bahwa festival awalnya direncanakan digelar pada Oktober 2026 dan sempat diwacanakan bergabung dengan Festival Teluk Tomini. Namun setelah melalui pertimbangan, agenda tersebut akhirnya diputuskan untuk berdiri sendiri.

Berita lainnya :  Nelayan Parigi Moutong Tuntut Ganti Rugi Rompong Hilang

“Awalnya sempat direncanakan digabung, tapi kemudian diputuskan digeser agar lebih fokus dan memiliki ruang yang lebih luas,” ujarnya, Selasa (21/04/2026).

Menurutnya, Festival GAMPIRI akan menjadi wadah bagi komunitas budaya lokal untuk menampilkan karya terbaik mereka. Kegiatan ini juga akan melibatkan program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS), yang selama ini membina pelajar di tingkat SD dan SMP.

“Anak-anak yang dilatih melalui GSMS akan tampil, mulai dari seni pertunjukan, fotografi hingga film. Semuanya terbuka tanpa batasan,” jelasnya.

Berita lainnya :  Disdikbud Parimo Perkuat Peran GTK Tingkatkan Kualitas Pendidikan Daerah

Tak hanya menampilkan budaya dari empat suku utama di Parigi Moutong—Kaili, Lauje, Tajio, dan Tialo—festival ini juga membuka ruang bagi keragaman budaya lain.

“Ke depan kita harapkan menjadi festival multikultur. Semua komunitas bisa tampil, baik Gorontalo, Bali, Jawa, Bugis, maupun lainnya,” tambahnya.

Rencananya, festival akan digelar selama dua malam di Alun-Alun Parigi. Lokasi ini dipilih karena dinilai strategis dan mampu menghadirkan nuansa pesta rakyat yang lebih hidup.

Berita lainnya :  Bapenda Parigi Moutong Gencar Tagih Tunggakan PBB-P2 Desa

Selain pertunjukan seni, panitia juga menyiapkan pameran budaya yang menampilkan artefak, foto sejarah, serta berbagai warisan lokal. Bahkan, festival ini diarahkan menjadi embrio ruang dokumentasi budaya daerah.

“Kita ingin ini berkembang menjadi semacam lumbung budaya, tempat berkumpulnya artefak dan dokumentasi sejarah,” katanya.

Menambah kemeriahan, festival juga akan diramaikan dengan olahraga tradisional seperti lomba sumpit yang dibagi dalam kategori anak-anak dan dewasa. Kegiatan ini diharapkan mampu menjaga tradisi agar tetap hidup di tengah generasi muda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *