Example floating
Example floating
Example 970x250
DaerahLingkungan

Jaringan PETI Parigi Moutong Diduga Dibekingi Oknum Polisi

×

Jaringan PETI Parigi Moutong Diduga Dibekingi Oknum Polisi

Sebarkan artikel ini
Ket. Foto : Praktik Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, diduga semakin terorganisir dan sulit disentuh hukum. (Dok. Pribadi)
Example 728x90

Parigi Moutong, Timursulawesi.id — Praktik Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, diduga semakin terorganisir dan sulit disentuh hukum. Investigasi terbaru mengungkap dugaan keterlibatan oknum aparat kepolisian bernama Edi Jaya yang disebut tidak hanya melindungi, tetapi juga mengendalikan aktivitas tambang ilegal di sejumlah wilayah Kecamatan Sausu.

Setelah sebelumnya namanya mencuat dalam aktivitas PETI di kawasan Mentawa Sausu Torono, Edi Jaya kini diduga memperluas pengaruhnya ke Desa Maleali, Kecamatan Sausu. Ia disebut-sebut berperan dalam pengoperasian alat berat jenis ekskavator yang digunakan untuk mengeruk material emas secara ilegal di wilayah tersebut.

Ekspansi aktivitas tambang ilegal ini memperkuat dugaan adanya jaringan perlindungan sistematis yang melibatkan oknum penegak hukum demi kepentingan pribadi. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari sumber lokal dan hasil penelusuran lapangan, keterlibatan Edi Jaya di Maleali bukan lagi sekadar isu liar.

Berita lainnya :  Faizan: Dorong Cabor Maksimalkan Seleksi Atlet Jelang Porkab 2025

Ia diduga bertindak sebagai koordinator lapangan yang mengatur jalannya operasional alat berat sekaligus menjadi “tameng” agar aktivitas PETI tidak tersentuh penindakan hukum.

Aktivitas tambang ilegal di Desa Maleali diketahui beroperasi di kawasan hutan dan bantaran sungai yang semestinya dilindungi negara. Meski menggunakan alat berat secara terbuka, aktivitas tersebut disebut berjalan lancar tanpa hambatan berarti.

Seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan, nama Edi Jaya kerap dijadikan jaminan agar lokasi tambang tidak diganggu aparat.

“Kami tahu ada penertiban dari Polda Sulawesi Tengah dan Polres Parigi Moutong di beberapa titik, tetapi di lokasi yang dijaga oleh oknum seperti Edi Jaya, informasi razia sering kali bocor lebih awal,” ujar sumber tersebut.

Berita lainnya :  Ketua DPRD Parigi Moutong Ikuti Retret Nasional Pimpinan Legislatif

Modus yang digunakan disebut serupa dengan pola di Mentawa Sausu Torono. Oknum tersebut diduga memfasilitasi masuknya pemodal dari luar daerah, menyediakan BBM subsidi untuk kebutuhan alat berat, hingga mengondisikan situasi sosial agar tidak memicu protes warga.

Jika ada masyarakat yang mempersoalkan dampak lingkungan, jaringan yang terlibat disebut bergerak cepat melakukan intimidasi ataupun memberikan kompensasi kecil agar warga memilih diam.

Dampak aktivitas PETI di Desa Maleali kini mulai dirasakan masyarakat. Penggunaan alat berat secara masif menyebabkan kerusakan bentang alam dan memicu erosi di wilayah hulu sungai. Ancaman banjir bandang saat musim hujan pun semakin meningkat.

Tak hanya itu, dugaan penggunaan bahan kimia berbahaya seperti merkuri secara tersembunyi juga mengancam kualitas air bersih yang digunakan warga di wilayah hilir.

Berita lainnya :  Kajati Sulteng Kunjungi Parigi Moutong, Tegaskan Integritas dan Sinergi

Situasi ini berbanding terbalik dengan komitmen penegakan hukum yang selama ini digaungkan aparat. Meski Polres Parigi Moutong diketahui gencar melakukan penertiban dan penyitaan alat berat di wilayah lain seperti Kasimbar dan Tombi, kawasan Maleali dan Sausu justru dinilai seolah mendapat perlakuan berbeda.

Meluasnya dugaan keterlibatan Edi Jaya dari Mentawa Sausu Torono hingga Desa Maleali memicu desakan keras dari masyarakat sipil agar Kapolda Sulawesi Tengah segera mengambil tindakan tegas tanpa pandang bulu.

Masyarakat menilai, jika dugaan keterlibatan oknum tersebut tidak segera diproses melalui jalur hukum maupun sidang etik, kepercayaan publik terhadap komitmen pemberantasan PETI di Parigi Moutong akan semakin runtuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *