PARIGI MOUTONG, Timursulawesi.id — Bertahun-tahun berusaha mempertahankan kehormatan dan menolak ajakan yang tidak dikehendakinya, seorang guru honorer di Sekolah Dasar Kecil Terpencil (SDKT) di wilayah pantai timur Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, akhirnya memberanikan diri menceritakan pengalaman pahit yang menurut pengakuannya telah membekas dalam hidupnya.
Perempuan yang seharusnya mengabdikan diri untuk mendidik anak-anak di wilayah terpencil itu mengaku mengalami dugaan pelecehan seksual disertai pemaksaan oleh kepala sekolah tempatnya bekerja. Peristiwa yang diceritakannya disebut berlangsung dalam rentang beberapa tahun, hingga dugaan tindakan pemaksaan yang paling serius terjadi pada November 2025.
Kisah tersebut bukan sekadar tentang relasi antara atasan dan bawahan di lingkungan pendidikan. Pengakuan itu juga menyisakan pertanyaan mengenai keamanan tenaga pendidik, terutama mereka yang bertugas di sekolah terpencil dengan akses terbatas dan jauh dari permukiman warga.
Kepada wartawan di kantor redaksi media ini, Sabtu (10/10/2026), sang guru menceritakan bahwa dirinya mulai mengajar di sekolah tersebut pada 2019, ketika bangunan sekolah yang terdiri atas tiga ruang kelas baru selesai dibangun pemerintah.
Menurut pengakuannya, persoalan bermula pada tahun yang sama ketika kepala sekolah diduga mencoba memaksanya melakukan hubungan seksual di sebuah rumah kontrakan milik anggota DPRD Parigi Moutong.
Upaya itu, kata dia, tidak berhasil karena dirinya melakukan perlawanan dan mengancam akan berteriak meminta pertolongan apabila kepala sekolah tersebut bertindak lebih jauh.
“Kalau kamu macam-macam dengan saya, akan saya teriak,” tuturnya, mengenang perkataan yang disampaikannya saat berusaha melindungi diri.
Namun, menurut cerita sang guru, kejadian tersebut tidak berhenti di situ. Dalam perjalanan dari Kota Parigi menuju wilayah pantai timur, kepala sekolah yang mengendarai sepeda motor bersamanya disebut kembali mencoba melakukan pendekatan yang tidak dikehendakinya.
Di tengah perjalanan, kepala sekolah itu diduga menghentikan sepeda motor di ruas jalan yang jauh dari permukiman penduduk. Sang guru mengaku kembali menolak dan memperingatkan bahwa dirinya akan berteriak sekuat-kuatnya jika dipaksa.
Penolakan demi penolakan itu, menurut pengakuannya, tidak membuat persoalan berakhir.
Pada 2021, kepala sekolah tersebut disebut mendatangi rumahnya untuk meminta kepada keluarga dan kedua orang tuanya agar mereka dinikahkan. Akan tetapi, permintaan itu ditolak oleh sang guru.
Ia mengaku tidak memiliki keinginan menikah dengan kepala sekolah tersebut karena laki-laki itu telah mempunyai istri yang sah, anak, bahkan cucu.
“Saya tidak suka menikah dengannya karena kepala sekolah tersebut sudah memiliki istri yang sah, sudah punya anak, bahkan cucu,” ungkapnya.
Setelah melewati rangkaian peristiwa tersebut, sang guru akhirnya memutuskan menikah dengan seorang laki-laki dari desa tetangga pada 2024. Keputusan itu diambil setelah ia memilih pasangan hidupnya sendiri.
“Pada tahun 2024 saya memutuskan menikah dengan salah satu laki-laki yang ada di desa tetangga,” ujarnya.
Pernikahan tersebut, menurut pengakuannya, tidak serta-merta mengakhiri persoalan. Ia menyebut kepala sekolah itu masih mengajaknya pergi bersama ke sekolah dengan alasan ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
Karena ajakan tersebut disampaikan dalam konteks pekerjaan, sang guru akhirnya menuruti permintaan itu. Namun, setibanya di sekolah, ia mengaku heran karena tidak menemukan rekan-rekan guru lainnya.
“Kenapa teman-teman yang lain tidak ada? Kenapa hanya kita berdua ini, Pak?” kenangnya mempertanyakan keadaan saat itu.
Letak sekolah yang jauh dari perkampungan membuat situasi tersebut semakin sulit baginya. Menurut cerita sang guru, ia tidak memiliki pilihan mudah untuk segera meninggalkan lokasi dan akhirnya harus bertahan di tempat kerja.
Malam pun tiba. Hujan turun, udara terasa dingin, sementara suasana di sekolah terpencil itu semakin sunyi.
Dalam kondisi tersebut, tepatnya pada November 2025, sang guru mengaku mengalami pemaksaan hubungan seksual oleh kepala sekolahnya. Ia mengatakan tidak lagi berdaya menghadapi situasi yang dialaminya.
Di tengah pengalaman yang disebutnya menyakitkan itu, ia mengaku hanya bisa berserah diri kepada Tuhan.
Salah satu perkataan yang paling diingatnya dari peristiwa tersebut adalah ucapan kepala sekolah yang, menurut penuturannya, mengaitkan tindakan itu dengan pernikahan.
“Dia berkata, ‘Saya lakukan ini agar kita sudah nikah banting’,” ungkap sang guru, menirukan perkataan yang diklaim disampaikan kepadanya saat kejadian.
Pengakuan tersebut menggambarkan pengalaman yang dinilai sangat berat bagi seorang perempuan yang sehari-hari menjalankan tugas mendidik anak-anak di wilayah terpencil. Meski demikian, seluruh dugaan yang disampaikan masih memerlukan verifikasi lebih lanjut, termasuk melalui keterangan pihak yang dilaporkan dan pemeriksaan oleh pihak berwenang.
Hingga berita ini disusun, kepala sekolah yang disebut dalam pengakuan tersebut belum memberikan tanggapan ketika dikonfirmasi melalui nomor telepon selulernya. Redaksi masih membuka ruang bagi yang bersangkutan untuk menyampaikan klarifikasi atau hak jawab atas tuduhan tersebut.
Kasus ini menyisakan persoalan penting yang perlu mendapat perhatian, yakni perlindungan terhadap tenaga pendidik di lingkungan kerja, terutama di sekolah-sekolah terpencil yang memiliki keterbatasan akses dan pengawasan.
Pengakuan seorang guru honorer ini patut ditindaklanjuti secara serius dan hati-hati. Kebenaran peristiwa perlu diuji melalui proses yang adil, sementara keselamatan, privasi, dan hak korban untuk memperoleh perlindungan harus tetap menjadi perhatian.















