Example floating
Example floating
Example 970x250
DaerahPendidikan

Wabup Buol Resmikan Aula Budaya dan Bedah Buku Rakyat

×

Wabup Buol Resmikan Aula Budaya dan Bedah Buku Rakyat

Sebarkan artikel ini
Ket. Foto : Upaya pelestarian budaya lokal kembali diperkuat di Kabupaten Buol melalui kegiatan Bedah Buku Cerita Rakyat “Boyo Pogut dan Tanda Merah di Pipinya” yang dirangkaikan dengan peresmian Aula Budaya Putri Anggatibone. (Dok. Humas Pemda Buol)
Example 728x90

BUOL, Timursulawesi.id — Upaya pelestarian budaya lokal kembali diperkuat di Kabupaten Buol melalui kegiatan Bedah Buku Cerita Rakyat “Boyo Pogut dan Tanda Merah di Pipinya” yang dirangkaikan dengan peresmian Aula Budaya Putri Anggatibone, Sabtu (23/05/2026). Kegiatan tersebut secara resmi dibuka oleh Wakil Bupati Buol, Dr. Moh. Nasir Dj. Daimaroto, sebagai bagian dari penguatan literasi dan pelestarian identitas budaya daerah.

Acara yang berlangsung di Aula Budaya Putri Anggatibone itu dihadiri berbagai unsur masyarakat, mulai dari tokoh adat, pegiat budaya, komunitas seni, akademisi, guru, mahasiswa, hingga media partner. Hadir pula Ibu Wakil Bupati Buol Ny. Zakiah Mahmud Daimaroto, Anggota DPRD Komisi I Arista Arman, Ketua Yayasan Berkah Bina Mandiri Jefri H. Moonti, Ketua IGI Buol Ahmad S. Ajun, serta sejumlah tokoh budaya dan Dewan Kesenian Kabupaten Buol.

Berita lainnya :  DPC PKB Parigi Moutong, Menggelar Dialog dan Penyerapan Aspirasi Masyarakat

Dalam laporan panitia disebutkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program penguatan budaya dan pendidikan melalui pelestarian cerita rakyat Buol yang didukung Program Dana Indonesiana Tahun 2026. Program tersebut bertujuan memperkenalkan kembali kekayaan cerita rakyat kepada generasi muda sekaligus menciptakan ruang tumbuh bagi literasi, seni, dan kebudayaan di daerah.

Ketua Yayasan Pendidikan Buol Educare, Andi Asrawati, menyampaikan bahwa bedah buku tersebut bukan sekadar peluncuran karya, melainkan bentuk nyata keberanian generasi muda dalam menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap warisan budaya lokal. Buku “Boyo Pogut dan Tanda Merah di Pipinya” sendiri memuat 15 cerita rakyat Buol yang disadur ulang dengan pendekatan lebih dekat kepada generasi masa kini tanpa menghilangkan nilai dan inti cerita aslinya.

Berita lainnya :  PLN Parigi Dorong Kolaborasi Penataan Pohon Demi Keselamatan

Menurutnya, cerita rakyat tidak boleh berhenti sebagai tradisi lisan semata, tetapi harus terus dihidupkan melalui karya tulis agar dapat diwariskan dan dipelajari oleh generasi mendatang. Sementara itu, Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Buol Educare, Dr. Tonang Malongi Sahura, menegaskan bahwa literasi budaya menjadi fondasi penting dalam menjaga identitas masyarakat di tengah derasnya perkembangan zaman dan arus digitalisasi.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Buol memberikan apresiasi kepada Yayasan Pendidikan Buol Educare, para penulis muda, pegiat budaya, serta seluruh pihak yang berkontribusi dalam pelestarian budaya melalui karya literasi. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi langkah strategis dalam membangun karakter masyarakat sekaligus menjaga jati diri daerah di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi informasi.

Berita lainnya :  Tambang Emas Ilegal Sausu Seret Nama Oknum Polisi Lokal

“Budaya harus diwariskan, bukan hanya diceritakan. Literasi budaya seperti ini menjadi penting agar generasi muda kita tetap mengenal identitas dan akar budayanya sendiri,” ujar Wakil Bupati.

Ia juga menekankan pentingnya mendokumentasikan karya budaya dalam bentuk buku maupun media digital serta mendorong pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sebagai bentuk perlindungan terhadap warisan budaya daerah. Acara kemudian ditutup dengan peresmian Aula Budaya Putri Anggatibone, sesi bedah buku, pembacaan kisah rakyat, diskusi budaya, penampilan dongeng pelajar, serta penyerahan sertifikat dan cendera mata kepada para peserta dan narasumber.

Total Views: 398

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *