PARIGI MOUTONG, Timursulawesi.id – Menjadi wartawan profesional bukan sekadar tentang kemampuan menghasilkan berita, tetapi juga menyangkut kemauan untuk terus belajar, menjaga etika, serta meningkatkan kualitas diri di tengah persaingan dunia jurnalistik yang semakin dinamis.
Pesan tersebut disampaikan Direktur Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Pusat, Dr. Aat Surya Syafaat, saat memberikan sambutan pada penutupan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Parigi Moutong di Parigi, Rabu (4/11/2026).
Menurut Aat, UKW merupakan salah satu instrumen penting untuk mengukur sekaligus memperkuat kemampuan wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistik secara profesional. Namun, predikat kompeten yang diperoleh peserta bukanlah akhir dari proses pembelajaran.
Ia pun menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh peserta yang dinyatakan kompeten, termasuk dua wartawan asal Jambi yang rela menempuh perjalanan jauh ke Parigi Moutong demi mengikuti kegiatan tersebut.
“Saya mengucapkan selamat kepada seluruh wartawan yang dinyatakan kompeten, termasuk dua peserta asal Jambi yang datang jauh-jauh ke Parigi Moutong untuk mengikuti UKW ini,” ungkapnya.
Aat menegaskan, wartawan tidak boleh merasa cukup dengan hasil UKW. Justru, pengakuan kompetensi tersebut harus menjadi dorongan untuk terus mengasah keterampilan, memperluas wawasan, dan meningkatkan kapasitas diri agar mampu mengikuti perkembangan serta menghadapi persaingan di dunia jurnalistik.
“Karena itu, untuk menjadi wartawan yang profesional, kita harus terus belajar, mengasah keterampilan, dan meningkatkan kompetensi,” ujarnya.
Selain kemampuan teknis jurnalistik, Aat juga menekankan pentingnya etika, sopan santun, dan sikap profesional dalam menjalankan tugas peliputan. Menurutnya, cara wartawan membawa diri, termasuk dalam hal penampilan, turut mencerminkan penghargaan terhadap profesi yang dijalani.
Ia mengingatkan agar wartawan membiasakan diri tampil rapi dan pantas ketika menjalankan tugas di lapangan. Sebab, profesionalisme tidak hanya terlihat dari kualitas berita yang dihasilkan, tetapi juga dari sikap dan perilaku sehari-hari.
“Wartawan adalah orang yang berkelas dan berpendidikan. Jadi, kalau liputan jangan memakai kaus oblong. Jangan memakai sandal juga. Kalau kita ingin dihargai orang lain, kita harus menghargai diri sendiri,” ucapnya.
Lebih lanjut, Aat mendorong para wartawan untuk semakin produktif dalam menghasilkan karya jurnalistik. Menurutnya, tulisan menjadi sarana penting untuk menuangkan gagasan, menyampaikan pemikiran, menyebarluaskan informasi, hingga merekam berbagai peristiwa yang terjadi di tengah masyarakat.
Ia juga berharap wartawan tidak hanya mengandalkan kemampuan menulis, tetapi turut mengembangkan keterampilan berbicara agar mampu menyampaikan pendapat, gagasan, dan informasi secara jelas serta komunikatif.
“Selain menulis, saya juga berharap teman-teman memiliki kemampuan berbicara yang baik agar dapat mengemukakan pendapat dengan baik,” pungkasnya.
Dalam pelaksanaan UKW PWI Kabupaten Parigi Moutong tersebut, sebanyak 26 wartawan dinyatakan kompeten. Jumlah itu terdiri atas tiga wartawan jenjang Utama, 12 wartawan jenjang Madya, dan 11 wartawan jenjang Muda.















