Example floating
Example floating
Example 970x250
Daerah

163 Mahasiswa Untad Turun ke Parimo, Fokus Atasi Stunting

×

163 Mahasiswa Untad Turun ke Parimo, Fokus Atasi Stunting

Sebarkan artikel ini
Ket. Foto : Sebanyak 163 mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Tadulako (Untad) diterjunkan ke empat kecamatan di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, untuk membantu mengidentifikasi persoalan kesehatan masyarakat sekaligus mendorong upaya penanganannya, terutama terkait stunting dan kesehatan ibu dan anak. (Dok. Diskominfo Parigi Moutong)
Example 728x90

PARIGI MOUTONG, Timursulawesi.id — Sebanyak 163 mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Tadulako (Untad) diterjunkan ke empat kecamatan di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, untuk membantu mengidentifikasi persoalan kesehatan masyarakat sekaligus mendorong upaya penanganannya, terutama terkait stunting dan kesehatan ibu dan anak.

Program melalui kegiatan Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) Tahun 2026 ini secara resmi dimulai setelah Sekretaris Daerah (Sekda) Parigi Moutong, Zulfinasran, S.STP., M.A.P., mewakili bupati menerima sekaligus melepas para mahasiswa dalam prosesi yang berlangsung di Auditorium Kantor Bupati Parigi Moutong, Senin (12/10/2026).

Selama satu bulan, terhitung mulai 12 Oktober hingga 12 November 2026, para mahasiswa akan melaksanakan kegiatan lapangan di Kecamatan Siniu, Ampibabo, Toribulu, dan Kasimbar. Pelaksanaan program ini merupakan bentuk kolaborasi antara FKM Untad dan Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong melalui Dinas Kesehatan untuk mendukung penanganan berbagai persoalan kesehatan prioritas di daerah.

Berita lainnya :  DPRD Parigi Moutong Ajukan Hak Angket Wabup Kontroversial

Dalam sambutan Bupati Parigi Moutong yang dibacakannya, Zulfinasran menegaskan bahwa pembangunan kesehatan membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Menurutnya, pengetahuan yang diperoleh mahasiswa di bangku kuliah perlu diterapkan secara langsung dengan memahami kondisi sosial, budaya, lingkungan, serta keadaan ekonomi masyarakat setempat.

Ia menekankan, keberhasilan pembangunan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah maupun pelayanan tenaga medis, tetapi juga membutuhkan dukungan lintas sektor dan keterlibatan aktif masyarakat.

“Masyarakat yang sehat adalah modal utama untuk membangun daerah yang maju, produktif, dan sejahtera. Namun, persoalan kesehatan tidak bisa diselesaikan sendirian oleh pemerintah atau tenaga medis. Dibutuhkan sinergi lintas sektor dan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat,” ujar Zulfinasran.

Melalui kegiatan PBL tersebut, mahasiswa diharapkan tidak sekadar menjalankan kewajiban akademik, tetapi juga mampu menjadi pemecah masalah (problem solver) yang memahami kebutuhan masyarakat. Mereka dituntut mengidentifikasi akar persoalan kesehatan di tingkat desa, membangun komunikasi yang humanis, serta menyusun alternatif solusi berdasarkan ilmu pengetahuan.

Berita lainnya :  PT AKA Rancang Kawasan Durian Raksasa di Parigi Moutong dan Libatkan Masyarakat

Fokus kegiatan diarahkan pada sejumlah isu penting, terutama percepatan penurunan stunting, peningkatan kesehatan ibu dan anak (KIA), serta penanganan masalah kesehatan masyarakat lainnya. Para mahasiswa juga akan terlibat dalam edukasi pemenuhan gizi, pencegahan penyakit, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta peningkatan kesadaran terhadap pentingnya menjaga kesehatan lingkungan.

Zulfinasran turut mengingatkan para peserta agar mampu menyesuaikan diri dengan karakteristik masyarakat di lokasi penugasan. Ia meminta mahasiswa membangun koordinasi dan komunikasi intensif dengan pemerintah desa, puskesmas, kader kesehatan, serta tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh pemuda.

Menurutnya, pendekatan yang dekat dengan masyarakat menjadi salah satu kunci agar program edukasi kesehatan dapat diterima dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi warga.

Berita lainnya :  Gerakan Tanam Pohon Parimo, Upaya Nyata Hadapi Perubahan Iklim

“Pembangunan daerah membutuhkan kombinasi tiga pilar: kebijakan dari pemerintah, riset dan sumber daya akademik dari perguruan tinggi, serta kearifan lokal dari masyarakat. Jadikan PBL ini momentum memperkuat kolaborasi yang berkelanjutan antara FKM Untad dan Pemkab Parigi Moutong,” pungkasnya.

Kegiatan penerimaan dan pelepasan mahasiswa tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat daerah dan unsur akademisi, di antaranya Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Bappelitbangda, para camat, kepala puskesmas, serta kepala desa di wilayah sasaran PBL. Hadir pula Ketua Program Studi S-1 Kesehatan Masyarakat FKM Untad Palu bersama jajaran dosen pembimbing lapangan.

Melalui kegiatan ini, sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan program selama satu bulan, tetapi berlanjut menjadi kerja sama berkelanjutan dalam memperkuat upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat di Parigi Moutong.

Total Views: 502

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *