Example floating
Example floating
Example 970x250
Daerah

Pemkab Parimo Dorong Penyandang Disabilitas Mandiri Lewat Keterampilan Usaha

×

Pemkab Parimo Dorong Penyandang Disabilitas Mandiri Lewat Keterampilan Usaha

Sebarkan artikel ini
Ket. Foto : Kepala Bidang Pelayanan Rehabilitasi Sosial (Yan Resos), Rahmayani Rachman, SH. (Dok. Timursulawesi.id/Ma'in)
Example 728x90

PARIGI MOUTONG, Timursulawesi.id — Upaya mendorong penyandang disabilitas agar lebih mandiri terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Salah satunya melalui penguatan keterampilan usaha produktif yang dinilai dapat membuka peluang ekonomi sesuai kemampuan masing-masing peserta.

Program tersebut diwujudkan melalui Workshop Penguatan Kemitraan Usaha Produktif Penyandang Disabilitas Kabupaten Parigi Moutong Tahun 2026, yang digelar Bidang Pelayanan Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas (Yan Resos) Dinas Sosial Kabupaten Parigi Moutong.

Kegiatan yang berlangsung di Mako Tagana Parigi Moutong, Senin (28/9/2026), menyasar penyandang disabilitas yang dinilai memiliki kemampuan untuk mengikuti pelatihan keterampilan usaha sederhana dan berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan produktif.

Kepala Bidang Pelayanan Rehabilitasi Sosial (Yan Resos), Rahmayani Rachman, mengatakan peserta workshop berasal dari siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) serta sejumlah penyandang disabilitas yang merupakan alumni SLB.

“Pesertanya ini kita ambil dari anak-anak SLB yang sudah bisa mandiri, seperti tingkat SMP dan SMA. Ada juga mantan-mantan siswa SLB yang merupakan penyandang disabilitas,” kata Rahmayani usai menghadiri pembukaan kegiatan.

Berita lainnya :  Safari Ramadhan, Pemkab Parigi Moutong Perkuat Silaturahmi dan Kendalikan Inflasi

Ia menjelaskan, total peserta yang mengikuti workshop sebanyak 30 orang. Sebanyak 20 peserta berasal dari SLB, sedangkan 10 peserta lainnya merupakan penyandang disabilitas dari sejumlah kelurahan di Kabupaten Parigi Moutong.

“Total pesertanya ada 30 orang. Dari SLB sebanyak 20 orang, sisanya dari kelurahan-kelurahan yang ada penyandang disabilitasnya,” ujarnya.

Menurut Rahmayani, workshop tersebut tidak hanya berorientasi pada pemberian materi, tetapi lebih diarahkan pada penguasaan keterampilan praktis yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk bernilai jual.

“Tujuannya supaya mereka punya kemampuan membuat sesuatu yang bisa dijual, misalnya cemilan-cemilan sederhana. Jadi keterampilan yang diberikan ini mudah dilakukan dan bisa dikembangkan,” jelasnya.

Dalam workshop tersebut, peserta mendapatkan praktik langsung membuat banana roll. Pilihan jenis keterampilan itu dilakukan setelah mempertimbangkan waktu pelaksanaan, keterbatasan anggaran, serta kondisi sebagian peserta yang masih aktif bersekolah.

Berita lainnya :  Polsek Parigi Libatkan Dinas dan SPBU Cari Solusi Penyaluran Solar Subsidi

Rahmayani mengungkapkan, sebelumnya peserta mengusulkan pelatihan pembuatan keripik. Namun, setelah dilakukan pertimbangan, panitia memilih jenis keterampilan yang lebih sederhana dan tidak membutuhkan waktu lama.

“Kemarin sebenarnya mereka minta pembuatan keripik. Cuma kita rasa karena waktunya singkat dan anggarannya juga terbatas, kita tanyakan kepada pemandu apa yang bagus, yang sederhana dan tidak memakan waktu,” ungkapnya.

Penyesuaian waktu menjadi salah satu pertimbangan penting karena sebagian peserta masih mengikuti kegiatan belajar di sekolah.

“Kasihan anak-anak, kalau sudah jam 12 ke atas mereka pulang sekolah. Jadi kita tidak bisa menggunakan waktu terlalu lama,” katanya.

Selain memberikan penguatan keterampilan usaha, Bidang Pelayanan Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Parigi Moutong juga terus memperhatikan kebutuhan penyandang disabilitas yang membutuhkan dukungan maupun alat bantu untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Rahmayani mencontohkan seorang penyandang disabilitas asal Baliara bernama Adrian. Sebelumnya, Adrian mengalami keterbatasan dalam beraktivitas dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk.

Berita lainnya :  Polres Parigi Moutong Gelar Pasar Murah, Beras Ludes

“Yang kemarin itu anak SLB juga. Kemarin sempat ada yang meminta bantuan kursi roda. Sebelumnya dia memang hampir tidak bisa melakukan apa-apa dan lebih banyak di tempat,” tuturnya.

Namun, berdasarkan cerita keluarga, kondisi Adrian perlahan menunjukkan perubahan. Ia mulai mampu berdiri dan berjalan meskipun kemampuan berjalan tersebut belum sepenuhnya sempurna.

“Orang tuanya bilang, ketika mendengar suara guntur dia kaget, kemudian langsung berdiri. Setelah itu sudah bisa berjalan, walaupun jalannya belum terlalu sempurna dan masih sering lama duduk,” kata Rahmayani.

Ia menilai perkembangan tersebut menunjukkan pentingnya perhatian dan pendampingan secara berkelanjutan bagi penyandang disabilitas. Dukungan itu, kata dia, tidak hanya berupa alat bantu, tetapi juga akses terhadap pelatihan dan keterampilan yang disesuaikan dengan kemampuan setiap individu.

“Intinya kita ingin mereka bisa lebih mandiri sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki,” pungkasnya.

Total Views: 151

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *