Palu, Timursulawesi.id – Lautan manusia berpakaian putih memadati kompleks Alkhairaat di Kota Palu, Rabu (1/4/2026). Ribuan jamaah dari berbagai daerah tumpah ruah mengikuti Haul ke-58 Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri, menandai besarnya kecintaan umat terhadap ulama kharismatik tersebut.
Di tengah khidmatnya suasana, rombongan dari Kabupaten Parigi Moutong turut hadir. Bupati Erwin Burase bersama Wakil Bupati Abdul Sahid, jajaran pimpinan OPD, serta masyarakat Parigi Moutong tampak berbaur dengan jamaah lainnya.
Peringatan tahun ini mengusung tema “Meneguhkan Spirit Keteladanan Guru Tua dalam Bingkai Ilmu dan Akhlak,” yang mencerminkan kuatnya warisan nilai pendidikan dan moral yang ditinggalkan Guru Tua, melampaui batas geografis dan generasi.
Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, dalam sambutannya menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya pendidikan sebagai fondasi utama kemajuan bangsa.
“Kalau bukan karena cinta kepada Guru Tua, tidak mungkin kita ada di sini. Ini adalah cinta yang tidak terbatas,” ujarnya penuh haru.
Ia menegaskan, jauh sebelum gagasan Indonesia Emas 2045 digaungkan, Guru Tua telah lebih dulu membangun fondasi kemajuan melalui jaringan pendidikan Alkhairaat. Menurutnya, tidak ada jalan instan untuk mengubah nasib bangsa selain melalui pendidikan yang kuat dan berkelanjutan.
Sementara itu, Ketua Utama Alkhairaat, Alwi bin Saggaf bin Muhammad Al-Jufri, dalam tausiyahnya mengingatkan totalitas perjuangan Guru Tua yang telah mewakafkan seluruh hidupnya untuk umat.
“Menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaga dan melanjutkan perjuangan tersebut,” tegasnya.
Sejumlah tokoh nasional turut hadir dalam peringatan ini, di antaranya Menteri Agama RI Nasaruddin Umar, Menteri ATR/BPN RI Nusron Wahid, Ketua KPU RI Mochammad Afifuddin, serta Ketua Bawaslu RI Rahmat Bagja.
Usai prosesi haul yang berlangsung khidmat, suasana kehangatan berlanjut di kediaman Bupati Parigi Moutong. Erwin Burase mengundang masyarakat Parigi Moutong untuk makan siang bersama sebagai bentuk silaturahmi.
Didampingi para asisten dan kepala OPD, mulai dari Dinas Ketahanan Pangan, Pemuda dan Olahraga, hingga Pariwisata, suasana kebersamaan terlihat cair. Para camat, kepala desa, dan warga tampak duduk bersama tanpa sekat.
“Kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi momentum meneladani akhlak Guru Tua. Kebersamaan ini adalah wujud ajaran beliau tentang persaudaraan,” ujar salah satu warga.
Semangat dari Haul ke-58 ini diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni. Masyarakat, khususnya dari Parigi Moutong, diharapkan membawa pulang nilai-nilai keteladanan Guru Tua untuk terus mengutamakan pendidikan dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.















