banner 970x250
Daerah  

Habib Alwi Al-Jufri Ungkap Hikmah Isra Mi’raj Sambut Ramadan

Ket. Foto : Ketua Utama PB Alkhairaat Pusat Palu, Habib Alwi bin Saggaf Al-Jufri, menyampaikan tausiyah penuh makna dalam peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. (Dok. Timursulaesi.id)

Parigi Moutong, Timursulawesi.id – Ketua Utama PB Alkhairaat Pusat Palu, Habib Alwi bin Saggaf Al-Jufri, menyampaikan tausiyah penuh makna dalam peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang dirangkaikan dengan Tarhib Ramadan 1447 Hijriah, di Auditorium Kantor Bupati Parigi Moutong, Kamis (29/1/2026).

Dalam ceramahnya, Habib Alwi menegaskan bahwa peristiwa Isra Mi’raj merupakan perjalanan spiritual paling agung sepanjang sejarah umat manusia. Perjalanan tersebut, menurutnya, adalah kemuliaan khusus yang Allah SWT anugerahkan kepada Nabi Muhammad SAW, bahkan tidak diberikan kepada malaikat terdekat sekalipun.

banner 728x90

“Isra Mi’raj menegaskan kedudukan Rasulullah SAW sebagai hamba Allah yang paling sempurna,” ujar Habib Alwi di hadapan ratusan jamaah.

Berita lainnya :  Pemkab Parigi Moutong Kukuhkan Pengurus Komisi Daerah Lanjut Usia

Ia mengajak jamaah untuk merenungi makna ayat pertama Surah Al-Isra yang diawali dengan kalimat Subhāna, sebagai bentuk penyucian Allah dari segala keterbatasan sifat makhluk. Menurutnya, setiap peristiwa yang disampaikan setelah kata tersebut adalah kejadian luar biasa yang tidak dapat diukur dengan logika manusia semata.

Habib Alwi menjelaskan bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam melihat, mendengar, dan bergerak, karena selalu terikat oleh alat, jarak, serta waktu. Berbeda dengan Allah SWT yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

“Oleh karena itu, perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha dalam satu malam bukanlah sesuatu yang mustahil bagi Allah,” jelasnya.

Berita lainnya :  Koperasi Kayuboko Bagikan Ratusan Sembako untuk Warga Desa

Ia juga menyinggung penolakan kaum Quraisy terhadap peristiwa Isra Mi’raj, yang kala itu mengukurnya dengan kemampuan manusia dan sarana transportasi pada zamannya, seperti unta yang membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Habib Alwi mengibaratkan perbedaan tersebut dengan perkembangan sarana transportasi modern, mulai dari berjalan kaki, kendaraan bermotor, hingga pesawat terbang, yang menunjukkan bahwa perbedaan alat menentukan cepat atau lambatnya perjalanan, apalagi jika yang memperjalankan adalah Allah SWT.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa Allah SWT dalam peristiwa Isra Mi’raj menyebut Rasulullah dengan kata “hamba-Nya”, bukan dengan gelar lainnya. Hal ini, menurut Habib Alwi, menegaskan bahwa derajat tertinggi manusia di sisi Allah adalah sebagai hamba yang taat sepenuhnya.

Berita lainnya :  Parigi Utara Expo 2025 Resmi Dibuka, Panggung Kreativitas dan Kebangkitan Ekonomi Lokal

Ia juga mengulas latar belakang terjadinya Isra Mi’raj yang berlangsung di tengah tekanan berat dakwah Rasulullah SAW. Dakwah tauhid yang menyeru meninggalkan penyembahan berhala memicu kemarahan kaum Quraisy, bahkan mendorong mereka menekan Nabi Muhammad SAW melalui pamannya agar menghentikan dakwah tersebut.

“Melalui Isra Mi’raj, Allah menghibur dan menguatkan Rasulullah, sekaligus menghadiahkan salat lima waktu sebagai tiang agama dan anugerah terbesar bagi umat Islam,” tuturnya.

Menutup tausiyahnya, Habib Alwi mengajak umat Islam menjadikan momentum Isra Mi’raj dan Tarhib Ramadan sebagai sarana memperkuat keimanan, meningkatkan kualitas salat, serta memperkokoh penghambaan diri kepada Allah SWT.

Penulis: (Ma'in)Editor: Zakki

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *