banner 970x250

PETI Buranga Dengan Intensitas Tinggi, Ini Adalah Ancaman Serius

Ket Foto: salah satu Lokasi PETI Parigi Moutong. (Dok. Pribadi)

Parigi Moutong, Timursulawesi.id – Duka dan trauma masyarakat atas tragedi longsor tambang di Gunung Nasalane, Desa Lobu, Kecamatan Moutong, belum sepenuhnya pulih. Namun ancaman serupa kini kembali menghantui aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) dengan intensitas tinggi dilaporkan berlangsung di Desa Buranga, Kecamatan Ampibabo lokasi yang ironisnya hanya berjarak puluhan kilometer dari Markas Komando (Mako) Polres Parigi Moutong.

Deru alat-alat berat yang terus mengeruk perut bumi Desa Buranga seolah menantang hukum sekaligus keselamatan jiwa. Kawasan ini disebut-sebut menjadi “bom waktu” yang sewaktu-waktu dapat meledak, mengulang sejarah kelam longsoran tambang yang pernah terjadi di wilayah tersebut beberapa tahun lalu.

banner 728x90

Tragedi di Gunung Nasalane seharusnya menjadi alarm keras bagi penegakan hukum dan pengawasan lingkungan di Parigi Moutong. Nyawa manusia melayang akibat praktik tambang ilegal yang abai terhadap keselamatan. Namun alih-alih menjadi pelajaran, pola kerja berisiko tinggi itu justru diduga kembali dipraktikkan di Buranga.

Berita lainnya :  Malam Ramah Tamah HUT RI Penuh Semangat Kebangsaan

Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan aktivitas alat berat dan mobilitas pekerja meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir. Lubang-lubang galian menganga tanpa sistem pengamanan memadai. Tebing tanah yang rapuh berdiri tegak di sekitar area kerja, menunggu curah hujan tinggi yang berpotensi memicu longsor.

Kondisi ini memicu keresahan warga setempat. Kedekatan geografis lokasi PETI Buranga dengan pusat pemerintahan dan aparat penegak hukum justru menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat.

Berita lainnya :  Wabup Parigi Moutong Buka Pelantikan BAMAG Periode 2025–2029

“Kami takut kejadian di Nasalane atau longsor di Buranga beberapa tahun lalu terulang lagi. Lokasinya dekat sekali dengan kota, tapi seolah tidak tersentuh hukum,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Bagi warga, PETI bukan semata persoalan ekonomi, melainkan persoalan keselamatan jiwa dan kerusakan lingkungan yang sistemik. Setiap aktivitas tambang tanpa izin dan standar teknis dinilai sebagai ancaman nyata bagi manusia dan alam sekitar.

Kini, sorotan publik tertuju pada aparat kepolisian dan pemerintah daerah. Kedekatan Mako Polres Parigi Moutong dengan lokasi PETI Buranga seharusnya diiringi dengan langkah preventif dan penindakan tegas terhadap aktivitas tambang ilegal.

Berita lainnya :  Pemda Parimo Tegas Perangi Narkoba di Birokrasi, FMAMNM Sangat Mengapresiasi

Masyarakat berharap tindakan tidak lagi datang setelah jatuhnya korban. Buranga, menurut warga, tidak boleh menjadi Nasalane berikutnya. Penegakan hukum harus hadir lebih cepat daripada bencana, dan keselamatan warga mesti ditempatkan di atas kepentingan segelintir pihak yang mengejar keuntungan dari emas ilegal.

Harapan itu kini menggantung di udara Buranga sebelum alarm bencana benar-benar berbunyi, adakah ketegasan yang mampu menghentikan mesin-mesin pengeruk maut tersebut? Sebab, satu nyawa yang melayang di lubang tambang adalah harga yang terlalu mahal untuk dibayar.

Penulis: (Ma'in)Editor: Zakki

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *