Parigi Moutong, Timursulawesi.id – Deru angin kencang dan gelombang tinggi di perairan Teluk Tomini memaksa ratusan nelayan di Kelurahan Bantaya, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, menghentikan aktivitas melaut. Sudah empat hari terakhir, sejak pertengahan pekan hingga Sabtu (28/2/2026), perahu-perahu mereka hanya terikat di pesisir, menunggu cuaca bersahabat.
Cuaca ekstrem berupa angin kencang, ombak besar, dan hujan deras membuat nelayan tak berani mengambil risiko. Keselamatan jiwa menjadi pertimbangan utama di tengah kondisi laut yang dinilai sangat berbahaya.
Salah seorang nelayan Bantaya, Armin, mengaku kondisi ini berdampak langsung pada dapur keluarga mereka. Empat hari tanpa melaut berarti empat hari tanpa pemasukan.
“Sudah empat hari kami tidak bisa melaut karena cuaca ekstrem. Kalau dipaksakan, sangat berbahaya. Ombak besar dan angin kencang,” ujar Armin saat ditemui di pesisir Bantaya, Sabtu sore.
Situasi semakin berat karena terjadi di bulan suci Ramadan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Kebutuhan rumah tangga meningkat, sementara penghasilan terhenti total. Mayoritas nelayan Bantaya menggantungkan hidup dari hasil tangkapan harian, sehingga tak ada pemasukan cadangan saat tak bisa melaut.
“Kami hidup dari hasil laut hari itu juga. Kalau tidak melaut, tidak ada penghasilan. Apalagi sekarang bulan puasa dan sebentar lagi lebaran,” tuturnya dengan nada cemas.
Dampak cuaca ekstrem tak hanya dirasakan nelayan. Pedagang ikan di sekitar pesisir juga mengeluhkan minimnya pasokan karena tidak adanya hasil tangkapan dari nelayan lokal.
Pantauan di lapangan menunjukkan puluhan perahu berjejer rapi di tepi pantai. Aktivitas yang biasanya ramai sejak dini hari kini lengang. Hanya terlihat beberapa nelayan berkumpul, memantau perubahan cuaca dengan harapan segera membaik.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong memberikan perhatian serius terhadap kondisi ini. Bantuan kebutuhan pokok maupun langkah antisipatif dinilai mendesak untuk meringankan beban ratusan keluarga terdampak.
Selain itu, nelayan meminta informasi prakiraan cuaca yang lebih intensif agar dapat mengetahui waktu aman untuk kembali melaut. Di tengah tekanan ekonomi yang kian menghimpit, keselamatan tetap menjadi prioritas utama.
Jika cuaca ekstrem di perairan Teluk Tomini terus berlanjut, kondisi ekonomi ratusan keluarga nelayan di Bantaya terancam semakin terpuruk. Mereka kini hanya bisa berharap angin dan ombak segera mereda, agar roda kehidupan kembali berputar menjelang Idul Fitri.















