banner 970x250

Tagana Parigi Moutong Padamkan Karhutla di Medan Ekstrem

Ket. Foto : Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Parigi Moutong turun langsung ke medan ekstrem untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah perbukitan yang sulit dijangkau, tepatnya di Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, dan Desa Uevolo, Kecamatan Siniu. (Dok. Pribadi)

Parigi Moutong, Timursulawesi.id – Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Parigi Moutong turun langsung ke medan ekstrem untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah perbukitan yang sulit dijangkau, tepatnya di Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, dan Desa Uevolo, Kecamatan Siniu.

Kedua lokasi tersebut sebelumnya dilaporkan belum tersentuh upaya pemadaman karena kondisi geografis yang curam serta akses yang terbatas hingga ke puncak gunung.

banner 728x90

Keterlibatan Tagana Parigi Moutong dilakukan setelah koordinasi lintas sektor bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan unsur TNI. Kolaborasi ini bertujuan menjangkau titik-titik api yang berada di kawasan perbukitan hingga lereng dan puncak gunung.

Berita lainnya :  Longsor PETI Desa Lobu Tewaskan Dua Penambang

Koordinator Tagana Parigi Moutong, Irwan, mengatakan pihaknya telah berhasil melakukan pemadaman pada sekitar 100 titik api yang tersebar di dua pos operasi, yakni di puncak Gunung Avolua dan wilayah Uevolo.

“Kurang lebih ada 100 titik api yang kami tangani di dua pos operasi. Fokus utama kami adalah titik-titik api yang belum tersentuh dan berpotensi meluas,” ujar Irwan.

Ia menjelaskan, operasi pemadaman karhutla tersebut berlangsung selama sepekan, terhitung sejak 2 hingga 8 Februari 2026. Selama periode itu, personel Tagana secara intensif melakukan penyisiran dan pemadaman manual di lokasi yang masih aktif terbakar.

Berita lainnya :  Kades Sipayo Legalkan PETI dan Tarik Iuran Sepihak

“Kami mulai pemadaman sejak 2 Februari sampai 8 Februari 2026. Setiap hari tim turun ke lapangan untuk memastikan api benar-benar padam dan tidak kembali membesar,” jelasnya.

Dalam pelaksanaannya, Tagana menghadapi tantangan berat akibat medan yang terjal dan ekstrem. Personel harus berjalan kaki menembus hutan dan lereng curam dengan kemiringan tinggi untuk mencapai titik api yang dinilai paling berbahaya.

“Medan sangat berat dan peralatan kami terbatas. Namun dengan alat seadanya, teman-teman tetap berupaya menjangkau titik api yang paling krusial, bahkan sampai ke puncak,” ungkap Irwan.

Sebanyak 20 personel Tagana Parigi Moutong diterjunkan langsung dalam operasi tersebut. Seluruh personel bekerja secara bergantian untuk menjaga stamina dan keselamatan selama bertugas di lapangan.

Berita lainnya :  Humas Polda Sulteng Latih Siswa SPN Kunci Komunikasi Efektif

“Total personel ada 20 orang. Mereka bekerja bergiliran karena kondisi di lapangan sangat menguras tenaga,” tambahnya.

Irwan berharap adanya dukungan yang lebih maksimal dari pemerintah daerah dan pihak terkait, khususnya dalam penyediaan peralatan dan perlengkapan pemadaman karhutla.

Menurutnya, potensi kebakaran hutan dan lahan di wilayah Parigi Moutong masih cukup tinggi dan membutuhkan penanganan yang serius serta berkelanjutan.

“Kami berharap ada perhatian lebih, terutama penambahan alat dan perlengkapan, agar penanganan karhutla ke depan bisa lebih cepat, aman, dan maksimal,” pungkasnya.

Penulis: (Ma'in)Editor: Zakki

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *