Example floating
Example floating
Example 970x250
DaerahLingkungan

Nelayan Parigi Moutong Tuntut Ganti Rugi Rompong Hilang

×

Nelayan Parigi Moutong Tuntut Ganti Rugi Rompong Hilang

Sebarkan artikel ini
Ket. Foto : Ratusan Nelayan Teluk Tomini melakukan aksi penuntutan atas hialngnya rompong yang diakibatkan oleh kapal asing melakukan survey migas diperairan tersebut. (Dok. Pribadi)
Example 728x90

Parigi Moutong, Timursulawesi.id – Ratusan orang nelayan mendatangi Kantor Bupati Parigi Moutong, Senin, 22 Desember 2025. Aksi tersebut dilakukan untuk menuntut pertanggung jawaban atas hilangnya puluhan alat bantu penangkapan ikan (rompong) yang diduga terdampak aktivitas survei seismik 3D Gorontalo Offshore di perairan Teluk Tomini.

Dalam aksi itu, nelayan menyuarakan keresahan mereka akibat rusaknya sumber mata pencaharian utama. salah satu Koordinator aksi, Rifai, menyebutkan ada sedikitnya 61 unit rompon milik nelayan setempat terputus dari jangkar dan hanyut ke tengah laut hingga tak dapat ditemukan kembali.

“Kami menuntut ganti rugi atas hilangnya aset kami. Ini bukan sekadar alat tangkap, tapi sumber penghidupan nelayan,” tegas Rifai saat menyampaikan aspirasi di depan kantor bupati.

Berita lainnya :  Gubernur Deklarasikan Wajib Belajar 13 Tahun & Program “Berani Sehat” di Musrenbang RPJMD 2025–2029

Ia juga menyoroti minimnya empati dari pelaksana proyek survei seismik yang dinilai tidak mempertimbangkan keberadaan rompon serta kearifan lokal nelayan sebelum melakukan aktivitas di laut.

Menanggapi aksi tersebut, Wakil Bupati Parigi Moutong Abdul Sahid turun langsung menemui massa. Ia menyatakan keprihatinannya atas kerugian yang dialami nelayan dan berjanji pemerintah daerah akan mengawal persoalan ini secara serius.

“Kami akan memperhatikan keluhan ini dengan sungguh-sungguh. Prinsipnya, pemerintah tidak akan membuat keputusan yang merugikan masyarakat nelayan,” ujar Wabup.

Untuk meredam situasi, Wakil Bupati mengundang 10 perwakilan nelayan masuk ke ruang kerjanya guna melakukan dialog dan membahas secara rinci bentuk serta besaran kerugian yang dialami.

Berita lainnya :  Pemadaman Karhulta di Desa Avolua Masih Manual, Bupati Parimo Turun Langsung Meninjau

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), aktivitas yang dipersoalkan nelayan merupakan bagian dari Proyek Akuisisi Seismik 3D Gorontalo Offshore. Proyek ini resmi dimulai awal Desember 2025 melalui kick off meeting di Manado dan Bitung.

Survei dilaksanakan oleh Badan Geologi dengan menggunakan kapal seismik HYSY 760 milik China Oilfield Services Limited (COSL). Operasi yang dijadwalkan berlangsung selama 40 hari ini bertujuan memetakan potensi minyak dan gas bumi di Cekungan Gorontalo secara lebih detail.

Kepala Pusat Survei Geologi, Edy Slameto, sebelumnya menyebut Cekungan Gorontalo sebagai wilayah yang sangat prospektif. Data hasil survei nantinya akan dievaluasi dan diserahkan kepada Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi untuk ditawarkan kepada investor.

Berita lainnya :  Kabar Duka Menyelimuti Penghujung Tahun 2025, Dua Tewas Dilokasi PETI Desa Lobu

Pemerintah pusat sendiri tengah menggenjot eksplorasi migas di kawasan timur Indonesia. Dari 128 cekungan sedimen yang teridentifikasi, baru sekitar 20 cekungan yang berproduksi. Survei di Teluk Tomini dinilai strategis untuk mendukung ketahanan energi nasional.

Namun di tingkat tapak, aktivitas berteknologi tinggi tersebut kini berbenturan dengan aktivitas ekonomi tradisional masyarakat pesisir. Hingga berita ini diturunkan, proses mediasi antara perwakilan nelayan dan Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong masih terus berlangsung untuk mencari titik temu terkait kompensasi dan ganti rugi rompon yang hilang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *