Example floating
Example floating
Example 970x250
DaerahPendidikan

Literasi Bergerak: Balai Bahasa Perkuat Komunitas di Parigi Moutong

×

Literasi Bergerak: Balai Bahasa Perkuat Komunitas di Parigi Moutong

Sebarkan artikel ini
Example 728x90
Ket. Foto : Bimtek literasi oleh Balai Bahasa Provinsi Sulteng di Parigi Moutong, yang ikuti taman baca masyarakat. (Dok : Wadi)

Parigi Moutong, Timursulawesi.id — Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah menggulirkan semangat literasi melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) selama tiga hari bagi komunitas penggerak literasi di Parigi Moutong, mulai 10 hingga 12 Juni 2025.

Kegiatan ini diikuti puluhan pegiat dari berbagai Taman Baca Masyarakat (TBM) yang tersebar di daerah tersebut. Mereka dibekali berbagai materi untuk meningkatkan kapasitas dan peran strategis dalam menggerakkan literasi di tingkat akar rumput.

Berita lainnya :  Parigi Moutong Siap Jadi Pemain Utama Industri Durian Nasional dan Internasional

“Ini bagian dari program prioritas Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Selain literasi, kami juga menggiatkan revitalisasi bahasa daerah dan penginternasionalan Bahasa Indonesia,” jelas Songgo Siruah, M.Pd., Widyabasa Ahli Madya Balai Bahasa Sulteng, pada hari ini Rabu tanggal 11 Juni 2025.

Berita lainnya :  Pelepasan 197 Calon Jamaah Haji Parigi Moutong, Pj Bupati: Jadilah Duta Daerah yang Berakhlak Mulia

Tahun ini, Balai Bahasa memfokuskan program literasi di tiga kabupaten, yakni Donggala, Parigi Moutong, dan Poso. Setelah sukses digelar di Donggala, Parigi Moutong menjadi titik kedua sebelum ditutup di Kabupaten Poso.

Lebih dari sekadar pelatihan, Bimtek ini dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata komunitas literasi. Narasumber yang dihadirkan dipilih berdasarkan tantangan yang dihadapi peserta di lapangan.

Berita lainnya :  Presiden Prabowo Salurkan Sapi Kurban ke Penyintas Gempa di Talise, Gubernur Sulteng Serahkan Langsung

“Setelah para pegiat literasi ini diberdayakan, harapannya mereka bisa langsung turun membantu masyarakat. Misalnya, jika ada warga yang belum bisa membaca atau berhitung, mereka bisa langsung memberi pendampingan,” tambahnya.

Ia menekankan pentingnya sinergi antara komunitas literasi dan pemerintah setempat. Dukungan mulai dari kepala desa hingga camat dinilai krusial agar kegiatan taman baca bisa berjalan beriringan dengan program pembangunan daerah.

“Kami ingin menciptakan literasi yang hidup dan bermanfaat, tidak hanya di ruang kelas, tapi juga di tengah masyarakat,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *